Virtual Cahaya

ich bin Gluckliche

Baik itu........


Baik itu anak kampus :

Baik itu ketika proposal sudah di acc oleh doping(dosen pembimbing) tercinta dan lanjut ke seminar, kemudian sidang akhirnya wisuda. Putri sri
Kata tia, “ baik itu adalah.. tia mau belajar sekarang karena mau UAS”.. *wkwkwk, udah kuliah ya tia, masih nostalgia SMA à UAS. Tia
Baik itu kalau besok final lab fisika dasar. Cut Lul
*nyeletuk kesal sambil menanti kebahagiaan sinyoo…


Versi bijak:

Baik adalah sesuatu yang bagus dan bermanfaat. Baik itu seperti jarum dalam jerami, enak ketika dilempar, susah ketika mencarinya lagi, begitu juga dengan kebaikan, mudah diteorikan, susah diterapkan. Ridha M
Orang baik itu adalah orang yang berani salah dengan tujuan yang mulia. Ai
Menurut aku, orang yang baik itu orang yang penuh kasih terhadap orang lain, contohnya bila saudara teman dekat atau siapapun yang mengalami susah duka, dan inilah orang tersebut dibutuhkan. “jangan ngejek ya”. Teri
Menurut aku, pertama baik itu relative.
Kedua, baik itu adalah ketika aku butuh seseorang dalam situasi apapun dia ada, keberadaannya gak harus ada secara fisik, tapi dalam perhatiannya pun akan membuat suasana itu selalu ada dan seseorang itu gak harus mengumbar-ngumbar rencana bohong yang akan dia hadapi bersama temannya. Selalu ada dalam kepeduliannya itu adalah baik. Nazira
Baik itu kebahagiaan. Kebahagian melihat orang-orang yang kita cintai (ortu, guru, sahabat, makhluk hidup) bahagia dengan kuantitas dan kualitas kebaikan pribadi kita. ^^ Kiki Zakia


Baik versi tidak pasti:

Baik itu galau
2 hari berikutnya sang komentator berubah pikiran:
Baik itu indah. Naiwa


Versi baik haruslah membaca:

Baik itu dikamus bahasa Indonesia ada :p Dina-tiny lovely best



Versi ngasal:

Baik itu ketika buruk sedang pergi. Yasmin
Baik itu kamu. Hahahaha :D Pojul
Baik itu kayak permen nano-nano.
Sambungan: Bagi orang baik, baik itu dipandang positif. Bagi orang dengki, mereka hanya melihat yang baik sebagai hal negatif. bagi yang golput up to you deh.. haha. Oryza


Baik versi golput:

Baik itu, “I have no idea”... Aula N


Versi makanan itu baik:

Baik itu ketika mamak buat donat pas ultah. Ambia
Baik itu kalau pulang kerumah, pas masuk kamar ada makanan banyak dibeli mama :D Julia-sist


Versi baik anak baru gede’:

Kalau kata aku, baik itu cinta. Ban baik itu, karena cinta XD
Di restate: haha iya, orang bisa baik kalo cinta. Makin cinta makin baik. Makin gak cinta makin gak baik. Ya toh XD. Tebzz-teba
Reply: kalau aku sih tebs, baik itu mendingan kalau nenek-nenek berhenti merepet. -.-“
Tebzz: korban repetan ya.. :p
Baik itu kalau seseorang itu bisa bikin nyaman didekat dia. Tiwi-my cute sis
baik itu banyak, tapi yang banyak belum tentu baik. :D. oya


Versi baik ada maunya:

Tentang cik kan?
Baik itu kalau menang main futsal, atau kalau kita mogok ada yang dorongin, atau baik itu lawannya jahat atau baik itu disukai banyak orang :D. Habib.
*Sering2lah dorong motor orang ya bib :D, biar jadi orang baik.
Baik itu kalau lagi capek ada yang pijitin :D hehe. Adel



Versi baik Para Suami-istri (curhat):

Baik itu adalah seorang anak perempuan yang memotong kuku ibunya perlahan dengan sangat hati-hati agar ibunya tidak merasakan sakit sedikitpun, ibu yang telah merawatnya hingga 20 tahun lamanya meskipun tidak melahirkannya.
Pasangan terbaik itu sepatu:
1.       Bentuknya tak persis sama namun serasi
2.       Saat berjalan tak pernah kompak, tapi memiliki tujuan yang sama
3.       Tak pernah ganti posisi namun saling melengkapi
4.       Selalu sederajat tidak ada yang lebih rendah atau tinggi
5.       Bila suatu hilang, yang lain tak memiliki arti
Baik itu adalah sepatu: SEjalan samPAi TUa :* :*
Hari ini penuh inspirasi, suami saya pernah bilang kalau baik itu adalah iman yang benar, akhlak yang lurus, akal yang sehat, fisik yang yang normal dan rizki yang halal
Baik itu adalah suami istri yang saling mencintai, selalu berusaha bagaimana menjadi bagian dari pasangannya, belahan jiwanya, bagian hidupnya, pikiran, perasaan, angan-angan, cita-citanya bahkan menjadi bagian dari kesedihannya, kemarahannya, rintihannya, dan semua kenangannya walaupun itu menyakitkan.
Nah.. kalau ini sih”baik versi gombal suami saya..tapi bikin hati saya bahagia..ckckck…
Kata beliau… baik itu adalah istriku, pendamping hidupku,bahagiaku, permaisuriku, penyejuk hatiku, penenang kalbuku, belahan jiwaku, pengobat dukaku, sayangku, pahala bagiku..
Baik itu adalah saat suamiku mencium keningku dengan penuh kasih, sementara hatiku mendoakannya dalam ketulusan yang suci.
*masya Allah, elus-elus dada, sambil bilang..”sabarrrrr….!!”


BaikVersi “lebih baik Curhat”:

Baik itu ketika dokter banyak datang pasien. Baik itu Rayyan Fitri..*ibu dokter angkat bicara
Kalau menurut kakak, baik itu kalau ada yang mau biayain kakak naik haji, trus bayarin liburan ke eropa, korea, Singapore, korea, jepang,  :D (Aamiin, semoga ada orang baik yang betul-betul biayain kakak).
Trus baik itu, kalau anak didik kakak yang bandelnya subhanallah itu bisa belajar dengan sebenar-benarnya belajar, dengerin apa yang kakak jelasin dengan sebenar-benarnya dengar dan bisa dapat rangking dikelas, aamiin (wondering (>.<)). Laila-sist


Baik versi cool:

Baik itu simple. Fajar
*cool banget, minus 20 derajat celcius, brrrr…
Baik itu ketika TIDAK mengucapkan selamat natal.. kiem ^^

                Baik itu banyak sekali versinya. Saya tidak menyangka banyak sekali variasi baik dalam berbagai aspek mulai dari hal-hal besar yang dideskripsikan meluap-luap hingga hal-hal kecil yang menyepelekan. Apapun deskripsi tentang kebaikan tidak akan pernah meminta dari apa ia harus memulainya, harus seriuskah? Lucukah? Marah-marahkah? Atau dengan hal yang bijak? Tapi soal bagaimana semua dari kita berkeinginan untuk paham kehadirannya meskipun tidak kita ketahui hadirnya tersebut dengan kesekasamaan yang menyenangkan, hal-hal yang tidak dapat dimengerti, romantisme bahkan menyakitkan sekalipun. Dengan demikian, Bergegaslah menebarkan kebaikan dengan cara yang terbaik darimu. Here we are cool with this. Yeip!
                                                                                                                                               

“Lovesick”



                Lovesick adalah sepotong kata istimewa yang ingin saya pilih dalam tulisan ini. Mengapa saya memilihnya? Mungkin menjadi trending topick untuk saya dan teman-teman kampus yang baru saja memasuki jenjang perguruan tinggi. Banyak yang seharusnya dikupas secara mendalam soal remaja kampus yang awam soal anak muda yang sesungguhnya tidak akan sanggup meninggalkan kata-kata lovesick. Semuanya menjadi lovesick. Lihat mahasiswa-mahasiswi lawan jenis menjadi lovesick. Melihat dosen keren, tidak menutup kemungkinan lovesick. Lihat ! betapa banyak yang memungkinkan bahwa dengan kampusnya pun kita dapat menjadi lovesick sehingga bisa-bisa tidak pulang-pulang kerumah, bisa lovesick karena belajar dan bisa saja lovesick gara-gara organisasi. Jadi, waspadalah dengan lovesick, lovesick apa yang kita miliki saat ini akan menentukan lovesick berikutnya dimasa depan. sebenarnya ada banyak hal yang ingin diungkapkan mengenai lovesick, namun lovesick apa yang telah membuat saya betah dimana-mana? Tetapi sebelum pertanyaannya terjawab, saya ingin pastikan apasih lovesick itu sebenarnya, Mari kita bongkar siapa identitasnya.


                Sungguh sebenarnya lovesick tidak ada yang berbeda dengan carsick. Berhubung kedua-duanya memiliki akhiran bermakna negative, yakni “sick” dalam salah satu bahasa yang mendunia. “sick” yang berarti sakit. Apakah lovesick berarti cinta yang sakit? Dan apakah carsick  berarti mobil yang sakit? Lantas Apakah mungkin mobil tersebut sakit? Apakah maksudnya adalah mobil tersebut mogok? Dan cinta yang sakit berarti hati seseorang yang telah hancur?.Jawabannya: tepat BUKAN! Tentulah tidak satu demi satu demikian penerjemahannya teman.  Ada pemaknaan kata yang tepat yang telah tercipta dengan sendirinya sebagai sebuah arti yang perfectionis sehingga tidak menimbulkan makna yang rancu lagi memiliki makna yang melenceng derajad kemiringannya. Lantas, apa maknanya?

                Tentu bahasa ini sangat dimengerti bagi yang paham. Seperti carsick dimaknakan sebagai mabuk darat. Dan bagaimana dengan lovesick? Yeah, tepat sekali. Lovesick adalah mabuk cinta. Really perfect! Apakah mungkin pensick berarti mabuk menulis? Mungkin saja bagi saya dan keliru bagi dunia barat. :D

                Mungkin ini lebih kepada soal mengapa saya bisa lovesick berat. Sesungguhnya bukan carsick, karena saya tidak mabuk darat tentunya. Sesungguhnya waktu telah menjawab mengapa kebahagiaan telah satu persatu datang semenjak masuk perguruan tinggi. Kampus adalah wahana baru. Semangat saya pun bukan lagi sekedar semangat yang sekedar luntur sewaktu-waktu. Semangat ini adalah semangat yang tertulis, terlaksana karena ikrar hati, semangat yang tertanam kuat karena lovesick sehingga hati menjadi hidup. Saya masuk kampus karena lovesick dan ketika masuk semuanya menjadi lovesick.  Betapa bahagianya mungkin. Karena apa semua ini?

                Menurut saya, lingkungan kampus adalah wahana bebas berkarya. Sepertinya sesibuk apapun, sayalah penguasa waktu saya sendiri sehingga sayapun berhak memimpinnya. Berbeda ketika Sekolah Menengah, mengapa? Karena waktu saya sebagaian besar diatur pihak pemilik aturan. Mana boleh pula hal tersebut saya langgar. Jika saya melanggar memang kemungkinan besarnya saya akan mendapat hukuman atas ketidaktaatan.  Mendapat hukuman jelas tidak enak, tetapi dapat mengobati kesalahan. Lantas dikampus? Siapa yang takut? Bebas. Meski sepadat apapun lingkungan kampus, saya mungkin termasuk merasa “waaahhhhh……….”, lega. Saya bisa merencanakan belajar banyak hal. Merencanakan waktu yang semakin harinya semakin produktif dan memiliki keluasan ilmu sedapat mungkin. Baik itu sambil berjalan, duduk sambil menunggu dosen datang, mengobrol dengan siapapun disana merasa berharga yakni kesempatan bertanya banyak hal dengan senior yang suka berdiskusi tidak pandang tempat. Masa-masa produktif itu dimanapun selanya dapat dicari, karena jadwal kuliah adalah kepastian. Tidak mubazir. Ketika dimana beberapa waktu baru-baru ini saya menyanggupkan membaca dua buah buku dan setiap harinya lima artikel sekaligus bebas berdasarkan rasa keingintahuan saya di jejaring “mbah google” yang paling akrab tentunya. Demikian ambisi dan senangnya. Ketika di sekolah menengah, 8 jam kerap saya habiskan disekolah. Memang tidak menutup kemungkinan saya bisa membaca diperpustakaan atau membawa buku sendiri, menikmati wifi “browsing” selama istirahat. Bayangkan saja, istirahatnya hanya setengah jam, tidak kurang dan tidak lebih. Kemudian  masuk kembali dan menikmati pembelajaran yang rutin. Lantas, apa yang kurang? Kurangnya adalah tidak ada diskusi ilmu yang fresh dan update “daily routine”, buku yang kami pakai distandardisasikan, itu-itu saja. Bayangkan jika setiap waktu yang kami temui adalah dilewati oleh guru-guru yang penjelasannya tidak kami mengerti? Guru-guru yang mungkin secara kualifikasi hanya membosankan kami sebagai siswa dahulunya. Belum lagi pelajaran yang diembat adalah belasan, dari mana semuanya dapat dikejar? Waktu teraduk-aduk dan ilmu tidak berkualitas secara total untuk pemahaman.Tentunya perbedaan lain adalah, kami tergerakkan hanya disekitar lingkungan sekolah, tidak boleh mondar-mandir keluar kecuali dengan izin. Lovesick pada waktu  pembelajaran dikampus saya maknai benar-benar.

                Lovesick pada pelajaran saya temukan dikampus. Efektif adalah kekuatan yang memungkinkan untuk saya cari meski hanya setengah jam atau 15 menit saja. Begitulah dosen menyediakan kualifikasinya kepada kami seefektif mungkin, sesuai perkiraan saya, untuk apa “ngalor-ngidul” jika semua isinya membuat kami tidak mengerti? Beruntungnya kampus ini bernama kampus MIPA.  Banyak setiap mahasiswa yang tergolong malas masuk kampus karena tidak suka dosennya itu biasa, tetapi mereka masih bisa belajar banyak dan mengumpulkan informasi yang akurat mengenai suatu bidang dan mengikuti ujian yang wajib. Alhasil juga menemukan nilai memuaskan. Tetapi, ini mungkin bukan budaya yang baik soal tidak hadir ke kampus, apalagi dengan alasan malas. Wahh… itu merugikan financial orang tua yang tersia-siakan apalagi anak kos. Lovesick? Saya masih bicara soal mabuk cinta. Memanfaatkan waktu menjadi efektif itu lah yang membuat lovesick selama berada dikampus. Ilmu bertambah dan saya merasa bermakna. Sebagai seorang MIPA, semiriwing cinta belajar banyak hal bukan tidak mungkin. Belajar banyak hal adalah saya. Membaca adalah saya. Menulis adalah saya. Bukan soal buat keren-kerenan, tapi ini namanya “mabuk”, mabuk cinta namanya (*asik). Saya bisa berteman dan mengumpulkan teman sebagai sumber diskusi untuk belajar Agama, mempelajari berbagai macam bahasa dan sastra, psikologi perkembangan, mempererat ilmu sejarah dan budaya, menyenangkan melukis atau kiat-kiat seni lainnya, mempererat ilmu sosial yang menjadi sumber kepekaan, ah iya apalagi bidang science alias ilmu alamiah memang saya adalah penikmatnya. Semuanya jadi suka. Jadi, berhubung sukanya banyak meskipun belum terlaksana full, tapi akan segera ditunaikan. Sukanya pada hal tertentu saja pada umumnya bakal cepat galau. Bukankah ini lovesick? “mabuk” belajar. Inilah mabuk cinta yang saya temukan selama dikampus, mabuk-mabuk yang tak tertahankan.

                Kenikmatan belajar telah membuat saya menjadi lovesick. Tidak hanya itu, kegiatan diskusi dan berkumpul dengan khalayak yang ramai dikampus membuat koneksi dan rasa cinta bertambah. Eitss… rasa cinta apa? Cinta sesama ya.. tepat sekali. Kemampuan saya berkomunikasi lebih banyak walau hanya dengan setumpuk permen lollipop yang telah membangun kepercayaan untuk saling menyapa baik sambil berlari maupun teriakan sapa dari kejauahan beberapa kilometer(*bisa dirasakan lebaynya), baik saya maupun senior begitulah cintanya. lovesick ini bernama mabuk cinta sama senior, cerita saya anatara senior-senior. Bisa bayangkan? Senior adalah ruang bergabung yang tidak kalah asik untuk berdiskusi.

                Lovesick senioritas yang patut ditiru adalah soal kemauan membuat rasa cintanya bersama senior, walaupun awal-awalnya sekedar mencoba-coba seolah-olah pernah bertemu dan sok akrab dengan banyolan yang mengernyitkan kening mereka, eh..?! ada yang bicara begini, ”kakak jurusan apa sih? Biologi ya? Kok jarang kelihatan dikampus? Letting berapa kak?” katanya senior menakutkan, siapa bilang. Buktinya senior aja panggil saya dengan sebutan kakak saking tertipu oleh gaya dan style.(*senior…senior.. terima kasih telah membuat saya lebih tua, walaupun saya harus terpingkal-pingkal dan jungkir balik mendengarnya). Mereka mungkin sebelumnya tidak mengerti arti cinta jika muka saya tidak dihadapan mereka saat itu dan saya juga demikian. Ini namanya lovesick.

                Kali ini saya akan menceritakan soal kantin. Bukankah kantin itu asik? Asik apa? Asik buat mengisi kekosongan perut mahasiswa yang lapar dan haus sambil menikmati tempat duduk gratis buat bicara dengan kawan-kawan jadi lebih akrab,ya? Saya ingin bahwa kawan-kawan jurusan saya sebaiknya tidak tahu banyak soal ini karena kemungkinan besar membuat jadi “iri”, tapi sungguh saya tidak mengerti dan jangan salahkan saya. Tolong jangan bilang-bilang kalau saya sebenarnya betah banget masuk kantin. Karena asiknya masuk kantin, makanan jadi murah. Sungguh banyak yang tidak saya mengerti mengapa setiap makan yang bernama “mie Aceh” saya dapati harganya lebih murah dari teman-teman. Minuman kawal saya adalah  teh hangat, setelah praktikum yang melelahkan dilalui. Mereka tahu selera saya. Teh adalah jaminan suguhan rutin yang seolah-olah mereka tahu segalanya.(*asik) merdeka! Ini lah lovesick antara saya dan warga kantin.

                Pernah suatu ketika dosen menjelaskan panjang lebar soal kualitas pengalamannya menyelam diberbagai laut Aceh, dosen ini menggeluti bidang coral reef, spesialis karang laut yang memberitahukan setidaknya ia memerhatikan ratusan jenis ikan dan berbagai kenakaragaman biota laut yang mengagumkan penglihatan mata ketika menyelam. Bagaimana tidak? Sabang dan pulau Aceh adalah scences yang tidak ditinggalkan dalam videonya yang sangat menarik. Scences ini mendapat perhatian mahasiswa berjejer untuk duduk paling depan. Salah satunya adalah saya, awalnya terkadang mencoba memasang mata bulat-bulat, soal tidak mengerti adalah bagian belakangan. Soal coral dapat bleaching adalah pengantar ilmu yang benar-benar fresh sekali, coral yang memutih kehilangan nutrisi akibat pemanasan global. Coral yang tanpa saya tahu sebenarnya haram menjadi koleksi manusia yang berlebihan juga sangat sensitive kedudukanya di dalam laut luas. Coral yang dipijak saja boleh jadi saat menyelam adalah tindakan yang keliru. Indah namun tetap sensitive seperti wanita cantik yang sensitive. Inilah dia, coral reef yang dihinggapi zooxanthellae diatasnya. Soal yang mengagumkan adalah ratusan jenis ikan yang telah dikoleksi oleh penglihatan mata tersebut menjadi sebuah buku acuan dikampus yakni “ikan karang pulau Aceh” yang sangat ekslusif. Bagaimana tidak ekslusif? Beliau mengatakan, “buku saya hanya dijual digramedia, tidak ada di Banda Aceh”. Sebutnya, dan dengan muka sambil memelas, sambil mengaku saya suka membaca dan menulis., taraaa… saya dihadiahkan satu. Bukan main. Semua jajaran senioritas merasa aneh dan lagi-lagi mengeryitkan keningnya, mengatakan mereka harus beli buku itu tidak terkecuali sebagai sumber belajar wajib bidang fisiologi hewan atau anatomi hewan, mungkin. Terima kasih, ternyata ada cinta dikampus. Mabuk cinta alias lovesick dosen yang keren bidangnya.

                Tidak hanya itu, saya lovesick dengan kampus lagi-lagi soal dosen yang berkualitas. Saya memperhatikannya selalu tepat waktu dan menjadi imam dalam shalat dikampus. Tidak terkecuali tiap saat, tidak meninggalkan shalat Duha dan mungkin juga ketika status facebook tengah malam menanyakan orang-orang online, “sepertinya orang yang online banyak juga ya yang tahajud”. Sip pak. Apakah poin plus yang saya temukan? Saya merasa lovesick dengan kampus lagi-lagi soal kebaikan. Kebaikan dosen adalah dimana ketika saya memberinya sebuah film motivasi seperti “Negeri 5 Menara” maka disaat yang sama saya langsung mendapat imbas hadiah yang serupa pula. Dapat hadiah ala baiknya diizinkan menonton siaran motivasi berbisnis pada dvd yang dipinjamkan. Subhanallah…,betapa mengharukan hal ini, jarang sekali terpikirkan oleh orang-orang, bahwa ada sikap “take and give” membuat sesama untuk saling tahu dan berbagi. Yang tidak hanya menunggu yang lain memberi. sungguh mengagumkan jika jumlahnya tidak terhitung sedikit soal sikap surgawi pada orang-orang duniawi. Belajar pun harus saya akui bahwa semua hal yang disampaikan adalah hal-hal yang baru, fresh dan up date. Batik fractal dari akumulasi computer dan matematika yang membentuk software sehingga setiap perseorangan dapat mencetak batik sendiri created by mipa matematika Nancy Magried dan teman-teman, bernama Jbatik software. Mipa matematika Indonesia. Salut mendapat informasi ini darinya. Dan lagi-lagi soal saya menemukan matematika yang selama ini menumbuhkan kebingungan menjadi asik untuk diketahui disaat “musik adalah matematika yang berbunyi”  disampaikan. Menakjubkan materi ini untuk diketahui sehingga yang mencintai musik kiranya tidak beralasan sulit mengenal matematika. Setuju?, eitss bapak dosen ini dosen matematika dan sangat cinta menulis. Bahkan beberapa tulisannya saya kagumi pula dan juga termasuk perjalanan hidup beliau yang berwarna-warni. Sejak kuliah mendapat kerjaan mencuci piring dikedai akibat soal tidak cukup budget untuk membiayai kuliah dan keseringannya tidak makan, seringnya tidak makan itu membuat sejejeran anak muda dimasanya tersengaja pula terbentuk grup “GENTALA” singkatan Generasi Tahan Lapar, apalagi mendengar banyak soal bapak beliau adalah astronot zaman dahulu (yakni: pemanjat dan pemetik kelapa), mendengar ceritanya ini saya merasa ingin cerita beliau ini diulang kembali kiranya dalam dunia sekarang, sayang rasanya tidak mungkin. Jika orang-orang kampung menanyakan soal dimana ia kuliah jawabannya adalah bukan mipa, tetapi “sekolah dosen”, kata yang mudah dicerna bagi orang-orang dikampungnya sehingga takjubnya iapun menjadi seorang dosen. Menyenangkan mengenal kehidupannya yang berhasil dan kini kehidupan beliau dituliskan olehnya yakni “SANG GENTALA”. Jika novelnya terbit maka sembari saya akan menjadi orang yang terdepan untuk menikmati ceritanya. Lovesick soal kebaikannya inilah dia.

                Bagaimana dengan teman? Lovesick memang kata kunci persahabatan mencadi cair dan mengalir. Bahkan sebenarnya lovesick dengan teman adalah soal keadaan kami yang sama-sama mabuk. Kami memiliki kiat-kiat lovesick yang sama-sama membara. Soal bukan mainnya saya cukup erat menjadi error dimana saja, mereka lovesick untuk mengingatkan saya mengenai apa saja. Sampai-sampai lovesick  mengingatkan saya ketika mengaji sambil menunggu deadline dan waktu sampai. Eh? Teman ini benar-benar menginginkan saya lebih tepat mengambil waktu mengaji jika sewaktu-waktu deadline ini tanpa saya sendiri telah terlewati soal gara-gara ke-erroran yang tidak diinginkan. Ini kerap membuat sedikit hati berguncang setiap kali diingatkan, tetapi maksudnya adalah mereka menguatkan posisi saya dalam waktu. Ke-erroran yang terjadi dalam lingkungan kampus adalah jagonya saya. Tapi, bukan soal bangga. Ini soal kefokusan menjadi taruhan. Bagaimana mungkin saya menunggu dan datang lebih awal dari teman-teman dan saya sendiri bisa tidak sadar kalau teman-teman sudah masuk laboratorium dan telah melakukan respond sebanyak empat soal dan saya menyadari saya hanya menjawab no. 5. Menyedihkan bukan? Dengan demikian, taruhan kefokusan pada waktu membuat teman-teman menjadi lovesick mendengarnya, bahkan sampai lovesick-nya mengingatkan saya dengan nada yang mengharuskan saya bergerak meskipun saat-saat itu senang-senangnya saya membaca atau recite Al-Qur’an. Love you so much my dear, teman-teman yang hebat untukku, sungguh teman ini adalah tipe teman yang tercantum dalam Qur’an Al-‘Asr, demi masa (waktu) dan soal orang-orang yang mengingatkan kebaikan dalam penuh kesabaran agar tidak meperoleh kerugian serta kesia-siaan. Lantas berdiri, duduk dan bagaimanapun sikapnya meski jungkir balik teman-teman selalu senang memberi pertolongan. Cinta ini membuat saya harus mengatakan hati saya senang sekali, membuat betah kuliah di mipa. Paradise ! Bagaimana semua ini bisa terjadi? Mengapa sih dengan semua orang bisa kelihatan lengket? Pakai pellet ya? Pakai pelet apaan sih? Pelet burung? Pelet ayam? Atau pelet bebek. Ah, yang benar saja ada pelet yang demikian dan rahasianya saya adalah cukup dengan kata-kata kutipan, uztazah yoyoh yusroh mengatakan begini:


Wahai puteraku ..

Engkau dapat mengubah keyakinan orang..

Dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari!

Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi.. namun, dengan senyumanmu.. dan kosa katamu yang lembut..

Dengan keduanya engkau dapat menyihir!!

Oleh karena itu, tersenyumlah…

Mahasuci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapat pahala darinya!

Di Cina.. jika engkau tidak murah senyum,

Mereka tidak akan memberi lisensi kepadamu untuk membuka kedai..

Jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!

Jika bibirmu terbuka karena senyuman dengan cepat..

Terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya

                Bersiaplah banyak membuat orang lain menjadi berharga dan bahagia dengan menebar senyum dan kosa kata yang baik untuk berbagi sebanyak mungkin. Sukses adalah soal utama kita merasa bahagia dan membahagiakan atau tidak. kemudian yang katanya gelar sepanjang kereta api, harta melimpah, dan sebagainya adalah soal yang menyusul no. 13. Soal ini lah resep yang membuat saya lovesick dengan kampus, lovesick sama dosen berkualitas, lovesick dengan senioritas yang senang berdiskusi, lovesick dengan teman yang mengingatkan, dan kampuspun ikut-ikutan lovesick akibat kiat-kiat sihir yang diajarkan uztazah Yoyoh Yusroh kepada saya dalam kutipannya, lovesick pada Tuhan yang segala-galanya telah memberikan semuanya terasa indah diantara kesempatan menebar senyum, menebar kosa kata yang baik, berbagi lebih banyak maka tebaran kisah kasih dikampus mipa terjalin sempurna. Lovesick tepatnya, mabuk cinta kepada semua substansi kampus soal karunia Tuhan (Allah) yang mengizinkan kami bertemu dan merasa menikmati indahnya proses-proses kehidupan yang saling membahagiakan hingga 20 tahun kelak saat mengenang peristiwanya. Lovesick with mipa. I love to be scientist. Lovesick surely to be scientist.



                                    



           


Jika Tinta Harus Tidur


Jika 5000 tahun lalu di Cina pembuatan tinta adalah berasal dari darah yang dibekukan dan kulit binatang, India akan ambil alih dari tulang yang dibakar. Cumi-cumi yang disebut sepia juga menghasilkan tinta hitam dan olehnya hanya diperuntukkan kepada musuhnya. Para pelukis mesir kuno menggunakan serpihan besi (asal tumbuhan) sebagai penghasil tinta. Dan apakah tinta kini hanya seonggokan cairan hitam? Syaraf terutama akan dihadang pemutusan gangli-gangli menyambut racun kematian jika tinta diminum.

                Jika Cina saja menggunakan darah? Maka apa hebatnya sebuah tinta? Lantas jika tulang dibakar, apakah hebatnya tinta itu? Untuk apa cumi-cumi juga naik batang hidungnya dalam andil tinta? Untuk apa cumi dan zat hitamnya ikut konferensi kehadiran?
                Olala...
                My dear, karena tinta adalah sebuah cairan yang tidak biasa. Bukan cairan sekedar hitam dan berwarna. Karena tinta melekat. Karena melekat maka ia diabadikan. Karena ia bukan air mineral yang kita minum. Karena kita mengambilnya dari substansi yang hidup yang istimewa, diramu. Substansi yang Tuhan ciptakan. Substansi yang telah menjadi perjanjian manis diatas daun rumbia yang belum menjadi kertas, dahulunya.
                Bagaimana jika tinta mati atau tertidur? Mungkin saja hari ini tiada agama, tiada Qur’an, tiada sekolah, tiada tahu bagaimana bisa tiang gedung menjulang, tiada penutur atau pembaca syair puisi kepada bulan, tiada apapun kecuali bahasa isyarat. Bahasa-bahasa yang terciptakan begitu saja menurut territorial masing-masing. Maka tinta adalah kerajaan penyampaian. Tinta mati maka semua substansi penyampaian mati, tiada yang menstranslate bahasa untuk dikenal dunia. Jika berjalanpun tiada tahu nama, berserakanlah kaki kita dimuka bumi, terpijak muda satu dan mudi yang lain karena tiada mengerti  bagaimana cintanya alamat-alamat pada namanya,  Maka primitiflah tanpa tinta.
                Maka tinta adalah nyawa. Dengan tinta timbullah kepercayaan, pemberi lekatan nama alamat pada jalan agar kaki mengerti arah, Tinta lah milik pelukis, pemilik gedung berlantai, pemilik lintas dunia dalam bahasa, pemilik syair, pemiliknya yang menginginkan. Itu semua soal karena tinta cinta pada lekatannya.
                Maka tintaku akan bersuara tajam lebih dari sekedar pedang, yang menembus tulang dan darah asal tinta itu bernaung, disini dalam rahmat Tuhan segala-galanya, ku ikrarkan kepadamu Tuhan dan Taulan, “tinta tiada pernah tidur” meskipun aku tertidur pada nafas yang tergenggam izrail. Jika saja tertidur, maka itu ketika bumi berbisik lelah kepada pemiliknya.

                Forum Linkar Pena 12nd. J

Larung


Kini bertepatan saat Aku masih menjadi bocah. Bocah kecil yang masih bergantung sepenuhnya dari sisi-sisi keluarga. Saya mengerti keberadaan anak seusia saya hanya akan menambah soal gurauan bahan bicara orang-orang dewasa. Sebagian orang dewasa ini merasa tidak ingin kembali menjadi bocah, mungkin tepatnya demikian karena kenyataannyapun tidak mungkin. Seorang yang telah dewasa mungkin akan terlihat abstrak bagi sosok anak kecil yang belum paham benar. Akan tetapi, anak kecil boleh saja tidak paham sekarang apa yang ia lihat, namun esok atau lusa ia akan mengerti bahwa menjadi dewasa adalah hukuman berat bagi mereka yang menistai kehidupan mereka masing-masing.

Teman Sekolah Dasar


“rrrrrrrrrrrrrr........nnnggg...., rrrrrrrr.........nnnggg...”
Deru suara kendaraan bermotor terus melantun di cupingku yang bertutupkan hijab. Membawa serentetan spare-part motor yang lengkap dan saling terhubung membantu pergerakan mesin yang berkendara pada aspal abu-abu dan bentuk motor yang stabil jika dilihat. Telah Aku habiskan menu yang cukup lezat dari sebuah warung makan ayam yang tidak perlu aku sebutkan namanya. Bukan dengan tidak sengaja menggabungkan diri bersama teman-teman. Teman-teman sekolah dasar yang sudah lama tak aku tatap wajahnya. Sebenarnya ini adalah moment berbuka puasa tahun lalu. Jika saja bukan karena ingin menatap

Corel write !


Sejak awalnya hampir tidak terpikirkan saya bisa dibilang suka menulis, hampir tidak pernah dibilang suka karena sejak SMP (ya ampun) cuma diajarin lancar buat puisi, tapi jangan berharap dibilang akan menang. Karena yang Saya tulis adalah puisi ibu dan puisi fanatik sama abang letting(berebutan abang letting sama sahabat), puisi yang mampu dituliskan oleh semua orang, yakin mas bro!.(#walaupun akhirnya pernah “puisi ibu” yang dilombakan itu ditempel didepan pintu kamar, kalau ibu ke kamar, paling pertama dijumpai, (teng-tong)...pasti kalimatnya: eh, anakku buat puisi untukku, *wings ;) ). Ah yang benar saja akan masuk Forum

Berterima Kasih kepada Sang Prajurit


Sebagaimana makhluk yang diciptakan sempurna secara bentuk dan rupa, berterima kasih adalah hal yang harus diupayakan setiap harinya. Diantara rasa terima kasih itu akan tercipta sebuah nilai kebahagiaan dan rasa sayang antara makhluk kepada penciptanya. Bagaimanapun juga kita tidak pernah lepas dari sang master plan sesungguhnya, yakni Tuhan di atas segala-galanya. Setiap segala aktivitas baik yang sedang diproseskan untuk menggapai sebuah hasil maupun yang telah berhasil tersebut seimbang dengan ketentuan