Virtual Cahaya

ich bin Gluckliche

Daun Pisang dalam Baur Cinta sang Ibu


Hanya kami manusia yang bergelantung di siang yang tiada pernah satupun tahu bagaimana nasibnya berada. Dengan tangan yang sangat ringan, tekad yang tiada meredup sedetik lamanya akan memberi arti menakjubkan di sepanjang masa kala itu. Jujur, Aku pun tahu bagaimana menjadi bagiannya dahulu. Melihat Ibuku menjual setumpuk kayu bakar untuk penghuni desa seberang. Kali ini mereka sudah jauh menjemput janji Tuhan.

“Ayahku tidak mampu, tapi tak bisa menjahitnya lagi, ini jahitan ke sepuluh, bagaimana kau bisa membalas jasa amakmu? Dan apa hubungannya dengan sepatuku?.”

Septi, bukan hati ini tidak paham maksudmu. Aku tahu bagaimana semestinya ibu mengisi detik-detik nafas kehidupan untukku, hingga aku bertemu dengamu dalam sebuah dimensi mudaku. Engkau sungguh mengingatkanku pada sosok kelahiran wanita yang kini tidak lagi bernyawa. Amak semua harapan.

Pisang yang cukup menambah berat, namun hanya lembaran yang tersisa untukku. Lembaran kayu dan lembaran daun sahaja. 
“apa ini bisa?” 
“bisa, yakinlah! Percaya saja lah, Allah akan menolongmu..” Aku meyakinkannya.

Maka dengan segenap tenaga, aku akan mengerti. “Anggap saja ini hadiah aku untuk mengingatkan jasa amak.” Walaupun setengah yakin ia tetap mengangguk. Kami akan segera menjajakkannya ke mana saja, agar temanku tahu bahwa betapa berharganya ia untukku.

Kami menjajakinya mulai dari pasar kelontong hingga pemulung. Semua orang kami tawarkan, hingga kami menemukan seseorang yang membutuhkan daun pisang ini sebagai lontongnya. Ya, tentu kami mengerti, tentu tidak semua jajakan kami berhasil dijual karena mungkin tidak semua membutuhkan apa yang kami tawarkan. Namun sayang, petir menyambar mengkilap selepas dari tukang lontong, hari seakan tidak seperti biasanya bersahabat. Kami terpaksa menghentikan penjualan dan berlari ke sebuah kios tanpa penghuni. Rumah kami pun sangat jauh dari tempat ini.

Hujan deras menghanyutkan kami. Tentu aku dan temanku terhenti menjual. Hujan lama sekali berhenti. Kami mencoba tertidur di kios, hanya sekedar menunggu hujan berhenti. Lantas, kami benar-benar tertidur. Oh Tuhan, mengapa barang kami hilang semuanya. Dahsyatnya, kami terbangun dengan hilangnya barang-barang jualan kami. Bagaimana ini? Kemudian temanku itu menemukan sepucuk surat di sakunya, segera ia merogoh sakunya dengan tangannya. Ia menemukan dua lembar uang merah dengan nominal lima angka nol.

“wahh... dari siapa ini? Ini lebih dari cukup!”
“benar, bukan? Apa kataku, percayalah pada pertolongan Allah.” Ia mengangguk-angguk.

Kami berlari-lari kecil sehingga tidak ada lagi yang harus kami lakukan selain membeli sepatu temanku itu, ya sebuah sepatu baru. Pasar baru yang telah menunggu di sore itu menjadi saksi Rahman dan Rahim Allah kepada dua anak manusia dengan keteguhan "mencari" sedikit rizki dengan cara yang halal.

Dua puluh tahun telah berlalu, peristiwa itu masih membekas dalam benakku, aku tidak membenci takdirku, bahkan aku amat bersyukur atas kejadian itu, membuatku lebih menghargai setiap langkah orang tuanku.

Dan tentu saja aku tidak akan menyuruh buah hatiku untuk melakukan hal yang sama sepertiku dahulu, hanya saja aku mengemasnya dalam bentuk yang lain.

Semoga setiap tetes keringat orang tua bisa dihargai oleh anaknya, walaupun tidak menginginkan balasan. Karena semua merupakan bentuk tanggungjawabnya kepada sang Rabbi, ditambah rasa sayangnya yang teramat sangat kepada mereka, hanya satu asanya ingin melihat anak-anaknya yang sholeh/sholehah.

Pelangi Untuk Ridha



Tentu, Aku rindu. Aku rindu kitab kuningmu, aku rindu senyum dan tawamu, dan sikap yang membuatmu tidak mengerti aku. Awalnya kita sama-sama tahu bahwa sejak lama aku bukanlah teman yang baik untukmu. Hanya saja kita sama-sama tahu, akhirnya kita dipertemukan untuk saling padu. Dahulu aku bersedih karena lantaran Tuhan memberinya melalui caramu, yang membuatku dan Tuhan (Allah) ridha akan persahabatan kita, mungkin pilu sebagai pengenal. Kini lebih baik mengenalmu.

Mungkin ini bukanlah cerita telenovela tentangmu yang berisi keteduhan pada janur hatiku, tetapi ini cerita apa adanya yang aku miliki tentang sebuah hikayat manusia. Meskipun Aku tahu Tuhan (Allah) segalanya bagi hatiku. Lantas mengapa aku tidak ingin mencintai sesuatu tanpaNya. Engkau seharusnya memang tahu tentang tragedi siapa pencengkram bumi dan keruhnya sebagian yang lain yang berada di atasnya. Kumpulan apapun tidak berarti kecuali satu, siapa temanmu.

Bukan.. Bukan.. Aku. Tetapi, janur hatimu. Dia membisik selalu. Kemana saja, engkau harus mengenalnya. Mengenalnya bukan dengan keseharian yang berilusi topeng pamungkas manusia bumi, tetapi ia terkadang sempurna bahaagia dikala engkau menjadi penyejuknya. Penyejuknya itu adalah apa yang seharusnya menghiasinya, amalmu kawan. Kesalihan akan membawamu sebening surga, lihatlah engkau akan seperti pelangi. Karena engkau mendengar bisikan kebaikan dan kecintaan hatimu. Tetapi, engkau akan tahu ketika hatimu binasa, kekacauannya yang datang silih berganti, hatimu digiring nista, kelumpuhannya akibat cantikmu tidak bersinggasana sedari biasa, engkau bahkan tidak mendengar suaranya, atau bahkan engkau mendengarnya, namun ia sakit lantaran bisa saja ia datang karena luka yang terlalu dalam, bukankah engkau tahu siapa yang mengaturnya?

Apa kabarmu yang sebenarnya adalah kabarku. Kabarmu adalah kabar seiring tragedi mesir kita. Kita akan bermain di surganya kelak jika kita percaya. Seperti mujahidin dan mujahidah. Jihad kita adalah birrul walidain, berbuat baik kepada orang yang menjaaga sedari kecil. Kemurungannya adalah cintanya kepadamu, biar hanya Allah yang tahu kebaikan dan dosanya. Semoga Allah menutupi dosanya dan mengangkat derajatnya dan bermain denganmu di surga kelak lantaran saling sebaya dan sama lah indah rupanya. Bukankah surga itu ada? Walau kesalahan sebesar bumi dan angkasa, walau ternyata kita terkadang tidak tahu apa yang hendak Allah beri di akhir ujungnya, tetapi percayalah dengan kekuatan ampunan dan doa selalu akan menyertai dirimu menuju ke sana. Begitu pula dengan Aku teman.

Aku tahu. Engkau yang merasakan cinta Tuhanmu yang lebih dalam sedangkan aku merasakan bagian cintanya yang lain. Mungkin esok atau lusa, pasti aku akan tahu. Namun, aku tidak tahu kawan. Berbahagialah, semua akan kembali. Ke surganya..... jihad seorang wanita adalah ibu. Ke surganya..... jihad seorang bidadari. Bukan perang yang utama, tapi ibumu yang tersisa. Begitu pesan nabiyullah yang telah tiada. Ajaklah ia bermain dalam taman surga. Memakai mahkota terbaik dengan hafalan dan pemaknaan kitabmu, yang selalu kau pegang bersamamu.

Maafkan, jika sesungguhnya aku ingin mengatakan, benar. Suatu hal akan reda, badai akan kembali cerah. Akan ada pelangi. Yaitu pelangi untuk ridha. Ridha, semoga engkau termasuk teman sepermainanku pula di surga. Untuk ridha, mungkin esok aku yang tiada. Semuanya butuh tersenyum karena ada pelangi setelah badai dan mendung di singgasana hatimu. Janji yang selalu pasti.


The palce that no eye has ever seen, the place that no heart has ever perceived. The place we've been promise to live in forever, the best of all. Paradise..Maherzain

 we'll be there together soon, to meet your father with pleased be upon.


Quu Amfusakum #PenaKamiTidakPuasa


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, keras, lagi tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(Qur’an Surat 66 (At-Tahrim): ayat 6)


Bagaimanapun jua, dikala kita merasakan aman. Ada banyak kata yang harus terus dihujamkan hingga hati terkadang terasa begitu tergerus dan haus. Ada masa dimana selain menyambung wajah untuk saling bertatap, perlu memikirkan bagaimana kita bisa memiliki hati yang nyaman bersama saudara yang dapat saling mengingatkan. Adapula keinginan nyaman bagi kita itu, membuat saudara kita ingin memutuskan jabatan tali kesetiaan persaudaraan kala kata tak bisa mewakili walau hanya doa.

Jika kebiasaan telah menjadi biasa dan menimbulkan salah, terkadang ia tertutup serapat-rapatnya. Karena terdapat sebuah ibarat yang yang dituturkan,

Jika tapak kaki kita sudah keras, pijak paku dan duri pun tidak terasa apa sebab tumitnya sudah keras. Tapi kalau tapak kaki lembut, terpijak duri sedikit saja sudah berdarah. Demikian jugalah hati, kalau ia sudah keras tak terasa lagi bersalah jika berbuat dosa. TG Nik Abdul Aziz

Kita yang selalu tahu bahwa tak semuanya mampu dengan tindakan yang preventif dan saat kita tahu bahwa kita disisi yang lemah, akan ada selalu langkah yang ingin disampaikanNya untuk menengadahkan tangan. Menengadah meminta sedikit atau banyak. Ia tentu menerima. Begitulah ketika tak mampu.

Terlepas dari itulah, cintamu akan selalu ditagih olehNya. Cinta pada sanak saudaramu, sanak familimu. Cinta yang selalu dipertaruhkan paling utama. Jika ia maksum berbuat maksiat, kala ia keras bagai tapak kaki yang telah terbiasa. Selamanya adalah tugasmu, walau hanya tinggal doa kala itu. Karena banyak yang berpeluh soal kesanggupan dan kelelahan. Sanggup hingga terlalu dina dimata sanakmu sebab seolah mengkafirkan perbuatannya, lelahmu hingga kita kelak membiarkannya tenggelam dalam dalamnya semburat api nyala.

Lantas apa?

Quu Amfusakum.. Jagalah keluargamu, wa ahlikum naaraa, dari api neraka. Sejak dahulu engkau bersamanya dan berlalulah susah beserta senang bersamanya. Aku ingin selalu cukup menasehatinya tiga kali. Tapi, Tuhan katakan tidak. Bagaimana rasanya jika engkau disurga disaat bahkan sanakmu tidak ikut masuk bersamamu? Ia tenggelam dalam keniscayaannya yang begitu menydihkan, apakah ia ayahmu? Ia dahulu memberi azan di telingamu yang paling kanan dan menafkahi ragamu agar engkau menjaga ruhmu, atau ibumu yang jasanya melahirkanmu tidak sebanding dengan kebaikan dalam bentuk apapun, bagaimana jika ia saudara kandungmu? Yang menghabiskan waktu untuk saling menjaga, membantu ibu ketika susah memeliharamu sedari kecil, membantu mengerjakan tugasmu, dan memberi pelipur rasa bahagia dalam pertemanan siang dan malam. Lalu, meninggalkannya dalam bahaya?

Jagalah keluargamu. Ialah harta yang kau temui didunia, harta yang dititipkan. Engkau memilikinya. Sebagaimana engkau takut dicampakkan ke dalam siksanya begitulah seharusnya engkau mencintai saudaramu. Tariklah ia ke pangkuanmu.

....................... #PenaKamiTidakPuasa


Al-Qur'an sebagai perisai, ibarat madu yang  termanis daripada madu Zainab, syair yang tidak ditemukan lebih indah selainnya, as-syifa bagi hati -hati dan jiwa-jiwa yang mulai durjana, sempit, dan terhimpit. Dia lah pembuka rasa hampa menjadikan bahagia dalam denyut dan air suci. Air suci  yang syahdu menemani lantunan dan damai menyertai. Duhai Allah. Bagaimana aku mendustai surat cintamu?

Demi namaKu (Engkau berkata), "Bacalah". Aku mulai membacanya sedari hati mengetuk. Duhai hati diliput damai, perlahan ku dayuh makna yang sempurna. Di sana ada harapan terbaru yang sekejap masuk dan mengubah letak. Aku melihat padang yang luas, tempat berkumpulnya para keluarga-keluarga Allah di bumi. Di sana aku menemukan semuanya berdiri menghadap Allah yang pengasih, Tuhan segala ciptaan. Semua yang dirasa merasuk malu, terjamah sesal hebat. Pecahlah pula sesak tangis seakan hati ihsan, melihatmu sedekat yang melebihi urat nadi. Membayang sisa-sisa lama yang enggan, kini dengan menjamah ayat "Bacalah", Engkau(Allah) berkata. Kemudian bulir air terjatuh. Allaahhh.... Allaaaahh... ya Kabiiirrr...

Kemudian aku buka segera, aku lantangkan tangan menunjuk, kaki yang terhimpit dan tumit menghitamkan dirinya, ku buka mata selayaknya ingin segera, lembar tergegas, semakin bergegas, semakin mengalun deras, semakin kuat kubuka, ketukan.

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat menguasainya." Al-Qiyamah: 16

Hatinya manusia yang melambung di atas tubuhnya. 

Menata Ulang Mimpi #PenaKamiTidakPuasa

Mereka yang tahu bahwa mereka memiliki mimpi, berbahagialah karena berhasil merencanakannya. Karena ada banyak di dunia ini mereka-mereka yang juga berniat memiliki mimpi atau hidup tanpa mimpi. Mereka yang ingin membayar mimpi, mereka pula yang berjuang dengannya. Mereka yang memiliki mimpi yang terus berikhtiar siang malam. Mereka yang memiliki mimpi akan merasa hidupnya terlepas dari lara hilangnya panca penunjuk untuk pergi, pulang dan membawa saat berhadapan, memang bermimpi akan menjelaskan detial bagaimana perjalanan hidup yang akan segera dilewati. 

Maka ada yang menuliskan mimpi mereka dalam sebuah buku yang ia tuangkan dengan penanya akan memiliki arti sepanjang masa. Mengingat mimpi selama mudanya walau hingga tutup usia ternyata mimpi itu nyaris tidak terpenuhi sebagaimana mestinya. Mempunyai buku dimana menulis mimpi-mimpi adalah hal yang paling ajaib dilakukan oleh pejuang dunia.

Mereka yang menulis mimpi-mimpi mereka yang tidak boleh terlewati begitu saja. Mimpi-mimpi mereka yang tertulis akan terus menjadi saksi dibandingkan mimpi yang hanya terpikir saja dalam ingatan yang juga akan cepat melupakan mereka. Hebatnya buku mimpi akan mengingatkan seberapa banyak ketunaian kehidupan yang terlaksana, yang memberi kelegaan hingga menjadi cerita-cerita hebat kepada keturunannya dan lapis langit ke tujuh. Menjadi cerita doa para alam dan kesaksian ikhtiar para pemiliknya. Bahwa alam ikut berdoa, alam akan mendengar mimpi-mimpi kita.

Bergegaslah bermimpi!
Tulislah mimpimu!

Karena jika esok mati. Engkau menjadi orang yang terkaya karena misi mimpimu. Walau bermimpi membangun rumah semut. Walau mimpi itu cukup ditertawakan. mengapa rumah semut? Membuat derai setelah berpuluh tahun lamanya tidak akan menjadi alasan menyerah. Tidak membuat gentar dengan kekecewaan yang silih berganti. Rumah semut yang diciptakan untuk berperang di Jalan Tuhan. 

Namun, jika berikhtiar dengan mimpi-mimpi yang sangat sulit Tuhan menerimannya. Maka saatnya menata ulang dengannya. Karena kuasa mimpi tidak dapat mengalahkan rencana yang tidak akan pernah sekalipun yang tahu bahwa anak desa menikahi putra kerajaan. Begitupula yang dimaksudkan Tuhan agar menata ulang mimpimu sesuai dengan yang Ia inginkan.

Menata ulang mimpi-mimpimu menjadi lebih mulia, menatanya kembali dengan doa. Memantapkannya dengan ikrar atas kehendaknya. Karena dengan demikian mimpimu akan terasa dijuangkan. Ah, jika bukan karena nanti engkau telah lelah berjuang mungkin keturunanmu akan meneruskan ikrar tulusmu. Karena menjadi bagian dari patuh dan taat adalah pejuang mimpi sejati.

Biarlah tangis menggenggam jari dan dukamu, tetapi menangislah karena kebahagiaan, berbahagialah karena tidak menjadi orang yang celaka dan berputus asa atas ketentuanNya. Karena Tuhan telah sejak lama menetapkanmu fi lauhim mahfudznya dan menetapkan cintanya pada kitab terbaik atas urusan anak manusia dan seisinya. Karena mungkin sehelai daun yang jatuh juga karena atas keinginanNya.

Aku yakin bahwa mimpiku juga dalam genggamannya. Biar ratusan mimpi terencana dan terabadikan dalam catatan. Tetap aku ada didekatNya. Maka perjuangan hebat akan selalu terbayar lunas, dan itu selalu menjadi kekuatan setelah lelah dirasa. Walau lelah dirasa dan tidak kunjung menjadi yang diharapkan, tetap kelelahan atas perjuangan akan menjadi saksi perjuangan. Duhai Tuhan, izinkan.

Sesungguhnya di antara mimpiku terselip namamu yang terus aku tata dan mengulangnya, untuk terus memperjuangkan bagaimana menjadi orang yang paling bahagia dan menjadi pejuang atasnya. Kini disini aku akan terus menata ulang mimpiku, dengan nama pejuang. Duhai Tuhan, izinkan.


Banda Aceh, 29 Juli '13 #ZonaHidupResist



Ada Anggur di dalam Daun #PenaKamiTidakPuasa



Saat kami disibukkan oleh dunia bedah hewan dan tumbuhan. Mungkin saat itu kami tidak sedang berpikir mengapa ini dan mengapa itu. Karena jika saja kami menanyakannya, kami takut seolah meragukan ciptaannya yang tak terbantahkan. Tentu yang dimaksudkan Ia lah teori pencipta. 

Tentu sesuatu yang terjadi adalah tidak terjadi dengan sendirinya. Semua yang berada didunia adalah hasil kreasi atau ciptaan. Seorang ilmuan George politzer mengungkapkan bahwa, 

"Alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan," dan ia menambahkan, "jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan."

Merupakan argument yang sangat membantah eksistensi ketuhanan. Bagaimana kiranya meragukan kehadiran ciptaan kalau bukan ia datang dari seorang yang mempercayai ketuhanan? Tentu tidak mungkin seorang yang mempunyai ketuhanan tidak setia. Hanya yang tidak bertuhan mampu menggulingkan sebuah patahan argument  hebat dalam sejarah ilmiah sepanjang abad.

Kemudian ada banyak yang mencoba-coba eksperimennya dengan sesuatu yang tidak dapat dicerna secara akal sehat, mencoba-coba, dan menyimpulkan sebagaimana akal tidak mampu menjangkau. Teori Abiogenesis Generatio spontanea  yang dibawa oleh seorang Aristoteles bahwa kehidupan terjadi secara spontan, telur-telur ikan menetas, namun ikan yang melahirkan telur sudah ada sejak dahulu hidup seketika di dalam lelumpuran.

Argument-argument tersebut adalah umpamaan yang dibuat oleh ilmiah tak bertuhan. Bangaimana mungkin setiap dari kita akan terus mempertahankan kehidupan yang berasal dari keturunan?
seseorang bertanya,

"Kamu anak siapa?"
"Aku anak ayah dan ibuku," ia bertanya
"Ayah dan Ibunda kamu anak siapa?"
"Ayah dan bunda lahir dari kakek dan nenek,"
"Kakek dan nenek kamu lahir dari siapa?"
"Dari buyut,"
"Buyutmu dari siapakah lahir?"
"dari buyut-buyutnya..."

omne vivum ex vivo, semoga teori kehidupan berasal dari kehidupan tidak lagi menjadi dogma ilmiah yang diterima karena sesungguhnya telah jelas penciptaan manusia dan seisi bumi yang menanunginya adalah penciptaan yang maha kuasa.

Semoga Stanley Miller tidak lagi menjadi panutan ilmu dunia ilmiah bagi masyarakat umum maupun saat dogma itu diterima Sekolah menengah Atas bahwa manusia berasal dari material organik CH4, H2O dan lain-lainnya saat dikejutkan oleh listrik dan kemudian muncul materi hidup. Sebuah buah pikir yang tidak dapat dimasukkan dalam alam bawah sadar bagi mereka-mereka yang mempercayai Tuhan.

Dengan demikian, adapun pengabadian cerita singkat ilmuan telah membawa sedikit lekatan hebat dalam memori. Saat itu memang tidak banyak yang menghiraukan mengapa demikian hebatnya ciptaanNya. Duhai, di dalam daun itu ada sekumpulan anggur yang menggantung. Bagaimana anggur dapat menjadi buah yang tersangkut dalam struktur sekecil potongan daun yang mungkin tidak kutemui potongan itu sebesar semut merah, tipis sekali. Akan tetapi, anggur mampu dilihat perisai indahnya dalam pembesaran objektif 10 x 40. Ficus elastica. Pohon karet hias yang dahulu menjadi penghasil karet. Daun yang besar menyimpan teka-teki kecil yang akal manusia pun tidak akan mampu sedikitpun menjangkaunya. Tentu penciptaan anggur di dalamnya tidaklah diperuntukkan bagi mereka para kaum yang mendustai kuasa dan Tidak mempercayai eksistensi Tuhan semesta alam.

Betapa ratusan ayat digilirkan dalam kitab suci Al-Qur'an mengenai penciptaan. Merupakan tanda kekuasaan yang tidak diragukan, "Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al An`aam : 73) 

Lontong Tungku Api #PenaKamiTidakPuasa


            Saat lebaran tiba, ada hal menarik yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap orang dirumah kami. Karena setiap lebaran mucul saya kerap menemukan sanak tetangga seberang kampung yang asing ikut bersilaturahmi ke rumah kami. Setelah bertanya-tanya, ternyata mereka memang sanak famili jauh dari ayahanda. Saya saat itu sedang menonton televisi di ruang depan dan ketika menuju ke belakang,
“Wahh.. Lontong yang disediakan tadi pagi kok cepat sekali habisnya?” tanyaku pada Ibu yang sedang mempersiapkan lagi lontong yang tersedia di dapur.
“Ya.. diserbu dong sama tamu seberang Meunasah Pante!”
Dibalik tidak kenalnya saya kepada mereka, saya turut bangga. Mungkin saya sedang tidak puas-puasnya berpikir, bagaimana mereka tahu kalau di rumah kami menyediakan lontong tiap tahunnya? Sebenarnya memang tidak jadi masalah karena biasanya kami memasak lontong dalam jumlah yang banyak. Tentu ini sudah menjadi tradisi, tiap tahun ibu mengukusnya dengan berbambu-bambu nasi dan  memasaknya dengan alumunium berukuran sebesar ember cat.
            Tentunya saya turut andil dalam pembuatan acara tahunan ini dan menjadi koki pemantau api tiap tahunnya. Andai ada banyak saudara kandung saya yang tidak sibuk diluar rumah, ia akan turut membantu, ah sayangnya kegiatan ini seolah-olah semua tangan tertuju padaku.
            Kalau ayahanda tidak terlalu sibuk, biasanya ia akan membantu mencari pelepah pisang dari kebun yang daunnya besar-besar. Daun ini biasanya akan menjadi bahan dasar pembungkus kukusan lontong. Berpuluh bungkus kukusan beras dikaitkan dengan lidi atas dan bawah daun. Setelah selesai, Ibulah yang akan menjadi bagian pengatur dan penyusunan letak di dalam panci besar alumunium itu.
            Terlepas dari itu semua, saya turut menjadi anak bawang untuk mengangkatnya menuju belakang rumah kami, dimana ada banyak kayu kebun yang ditebang, kayu bekas pembangunan dan tidak lupa batok kelapa kering. Tiga bahan tersebutlah yang akan menjadi pemicu pembakaran lontong di atas tungku. Loh kok batok kelapa bisa? My dear, batok kelapa ini lah yang pada dasarnya yang menyembabkan semburat api menjuntai ketika api beranjak mati. Tidak mengerti pula bagaimana detilnya, tetapi yang jelas batok mengandung minyak.
            Begitulah tugas saya sepanjang hari, memantau api di belakang rumah dalam kegiatan annual sepanjang kebahagiaan Lebaran. Memasaknya tentu menguras tenaga, selain harus selalu memasukkan batok kelapa ataupun kayu dalam tungku berulang-ulang, saya juga harus melihat ketersedian air yang digunakan untuk merebus kukusan. Jika tidak? makanan tidak akan masak dong! Tentu air perebusannya harus diberi berulang-ulang pula ketika ketersediaannya habis.
            Selain itu, memasaknya membutuhkan 9 sampai 10 jam. Jika memasaknya jam 10 pagi, aku harus memantau masakan ini hingga larut malam. Acapkali mukaku menjadi memerah kegelapan, seharian bermain dengan api dan asapnya. Jika bukan memasak dengan waktu yang sepadan, lontongnya tentu akan amburadul. Hal ini pernah terjadi pada beberapa tahun silam, lontong menjadi terlalu lembek karena tidak bagus penjagaannya atau terlalu keras karena melewati batas ambang pemasakan. Sebenarnya kebutuhan 9 sampai 10 jam pemasakan hanyalah prediksi ibu yang terkadang dapat berubah menjadi beberapa jam lagi jika api rentan mati dalam tungkunya karena tidak terlalu dijaga dengan baik.

            Tepat pada waktu yang sangat larut kami mengangkat lontong dari tungku dan ibu telah mempersiapkan lauk yang bertemankan tauco cabe hijo dan aneka macam daging. Keesokan paginya usai Shalat Idul Fitri, rumah kami memang benar-benar diserbu, bagaimana tidak, rumah kami terletak di depan masjid. Tidak salah juga ya lontong kami terkenal dan dilahap warga kampung serta sanak famili setiap tahunnya, pikirku.